III

Ini Dia, Inilah Gayo di Hulu Peusangan | bandatourism

03.46
0 komentar


Walau cuaca tak begitu cocok untuk kegiatan massa dialam terbuka ternyatai rangkaian acara Inilah Gayo II berhasil digelar dengan sukses oleh penyelenggaranya dari situs berita online Lintas Gayo bekerjasa dengan Gayo Fotografer Club (GFC) dan dukungan para wartawan, pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah serta sejumlah kalangan lainnya, Minggu (11/9/2011).


Dalam acara yang digelar dilapangan YPI Hakim Bale Bujang Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah tersebut, sejak pagi sekitar pukul 10.00 Wib dimulai pameran foto-foto karya puluhan anggota GFC dan tepat pukul 14.00 Wib tampil sejumlah seniman dan penyair dataran tinggi Gayo.
Penyair Fikar W Eda yang dipercayakan sebagai pembawa acara satu persatu mempersilahkan para seniman untuk tampil di sejumlah pentas yang disediakan dan salah satunya sengaja ditempatkan menjorok ke Weh Pesangan (sungai Peusangan).
“Weh Pesangan adalah hulu kehidupan bagi jutaan orang. Hulu Pesangan adalah hulu peradaban dan karenanya kita berada disini untuk menyerukan Inilah Gayo,” kata Fikar yang disambut tepuk tangan para pengunjung.

Dia kemudian memberi kesempatan pertama untuk unjuk kebolehan kepada grup band Beby Steven Sound yang personilnya terlihat masih sangat muda belia. Mereka memborong 4 (lagu) dalam kesempatan tersebut. Berikutnya tampil Kepala Sekolah SMAN 1 Takengon, Uswatuddin yang ternyata selain guru di SMA yang terbilang favorite di Takengon tersebut juga mampu mengundang tepuk tangan dari para pengunjung setelah membacakan puisinya.

Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM yang berhalangan hadir dilokasi tersebut mewakilkannya kepada Asiten Dua Setdakab, Drs. Muhammad Syukri MM  dan dalam sambutannya menyatakan kegembiraan atas terselenggaranya even seni budaya tersebut. Dia berucap terimakasih dan selamat kepada panitia atas upaya yang ditempuh mengenalkan dan melestarikan seni budaya Gayo.

Sesi berikutnya tampil grup band SMAN 4 Takengon dengan satu lagu Gayo yang disusul sanggar Oloh Guel pimpinan Yus dari Pendere Saril. Sedereten peralatan music tradisional seperti Teganing, Suling Oloh, Repai dan lain-lain dikerahkan untuk memuaskan hati pengujung. Dengan 18 personilnya, selain melagukan lagu Gayo sanggar ini juga menampilkan tari Guel yang ditarikan sejumlah bocah perempuan dan 2 (dua) pria bujang dengan kostum Kerawang Gayo. 

Ratusan pengunjung mulai mendekati Weh Pesangan saat Rahmadsyah, sang pelakon Ketibung asal Kayu Kul Pegasing diminta Fikar W Eda memainkan seni music di dalam air dengan menggunakan tangan.

Rahmadsyah yang sudah berumur paroh baya tersebut kemudian turun ke Weh Pesangan hingga air setara dengan dadanya. Dia mulai memainkan air dan menimbulkan suara seperti bunyi Repai dengan irama khas Gayo. Tepuk tangan meriah menyambut Rahmadsyah sesaat setelah Berketibung yang ternyata bisa diiringi dengan Teganing oleh personil Oloh Guel.

Sesi berikutnya Fikar W Eda membaca puisi-puisinya berkolaborasi dengan sanggar tersebut. Layaknya kerasukan Fikar berpuisi di Weh Pesangan dengan gaya khasnya. Seperti terinspirasi oleh penampilan Fikar, Rahmadsyah sang Peketibung Gayo turun lagi ke air dan menyanyikan lagu bertajuk “Ketibung” karya Ceh Lakiki.

Rupanya tak hanya Fikar dan Rahmadsyah yang “kerasukan”, seorang penari Guel dengan pakaian Kerawang meloncat ke Weh Pesangan dan layaknya kesurupan langsung memainkan gerakan-gerakan tari Guel, tari sejarah Gajah Putih tersebut didalam air. Fikar pun tak menghentikan sajaknya dengan judul “Pesangan” diiringi bunyi Teganing. Sang istri Fikar, Devi Komala Syahni dan anak ketiganya Siti Zeta Renggali ternyata ikut nimbrung. Devi yang jatuh cinta kepada Gayo untuk pertama kalinya saat menonton film Anak Seribu Pulau yang diperankan Kabri Wali terdengar bernyanyi Gayo dan anaknya yang masih kelas III SD tersebut memainkan biola.

“Luar biasa,” hanya itu yang terucap dari mulut salah seorang pengunjung, pria kelahiran dan berdomisili di Lhok Seumawe, Reza Juanda. Pehobi fotografer yang sengaja hadir ke Takengon ingin menyaksikan seni Ketibung dan sejumlah pementasan lainnya.
Belum lagi biusan suguhan seniman tersebut sirna, grup band Zombeetnica yang kesohor hingga ke ranah Melayu Pekanbaru mulai unjuk kebolehan dengan sederatan lagu mereka yang sudah kesohor seperti Muniru. Mereka dengan vokalis Irvan dengan iringan alat music modern dan tabuhan Repai, lengkingan suling Gayo lagi-lagi membius penonton. Mereka “cogok” saksikan aksi Zombeetnica.

Sesi berikutnya, muncul Uan Daudy, sang vokalis SABA Grup yang pernah kesohor yang lagu-lagunya masih popular hingga saat ini. Uan memilih lagu bertajuk Lembide, sebutan untuk salah satu yang konon makhluk halus “penunggu” Danau Lut Tawar.
Sang penyair muda kelahiran Asir-asir Takengon yang juga ikut jejak LK Ara dan Fikar masuk dijajaran penyair Nasional, Salman Yoga tampil dengan 2 puisinya. Diiringi gesekan biola ditangan Yusra Amri dia mencoba alihkan suasana hati penonton untuk mengingat jasa ibu dengan sajaknya bertajuk “Ine”. Tak ayal, para pengunjung berseru “Ine” berbarengan saat Salman meminta untuk melakukannya.

Sesaat kemudian Fikar W Eda berdiri disalah satu bekas tangga berbahan tembok beberapa meter dari tepi Weh Pesangan. Ditembok tersebut tertulis jelas 1939 yang rupanya adalah angka tahun saat Tgk Abdul Djalil alias Tgk Djali, ulama kharismatik Gayo mendirikan sebuah Mersah (Mushalla) bersama masyarakat kampung Hakim Bale Bujang waktu itu.
“Tengku Djali adalah sosok pembaharu di Tanoh Gayo dan ditempat saya berdiri ini dia pernah mendirikan Masjid yang dikenal sebagai Masjid Tengku Jali yang sebenarnya bernama Masjid Taqwa,” seru Fikar sambil menyerukan gerakan pembaharuan harus kembali dilakukan.

Diceritakan Fikar, Tgk Djali pernah membeli ratusan buku dan mendirikan perpustakaan di kantor PT Aceh Tengah di jalan Malim Dewa Takengon. Namun pada tahun 1960 tempat tersebut terbakar. Buku-buku hasil jerih payah Tgk Djali ikut ludes dilalap kebakaran besar tersebut.

Selanjutnya dipanggung Inilah Gayo II muncul Ipap Suparpto, salah seorang personil Sanggar Arimulomi yang sempat eksis belasan tahun dan berhasil menelurkan sejumlah seniman ternama Tanoh Gayo. Ipap dengan gaya teatrikal membaca puisi bernada miris terhadap kekinian Tanoh Gayo yang terasa gersang.
Pinusnya, danaunya dan moral orang-orang penghuninya yang sudah memprihatinkan. Penampilan memukau Ipap Suprapto disusul dengan aksi band atraktif Manohara, Fikar W Eda sempat bingung dengan lagu Gayo yang dinyanyikan. “Mengasyikkan lagu tersebut, apa itu lagu baru ?” bisik Fikar kepada Lintas Gayo. Ternyata improvisasi Manohara yang membawakan salah satu lagu SABA Grup tersebut membuat seniman ini tidak mengenali lagi lagu dari grup Legendaris berkru Samsul, Kandar SA dan kawan-kawan tersebut.

Cerita Burung Perkutut yang dibawakan Anto Kieting dengan gaya teatrekal yang sangat kental membuat pengunjung kembali “cogok”. Anto sempat mengejutkan para pengunjung saat membuang kursi dari atas panggung saat mengungkapkan rasa bosannya terhadap suasana social dan politik yang dinilainya butuh pembaharuan. “Sebagian rakyat butuh suasana baru di Tanoh Gayo” demikian kesimpulan aksinya.

Ternyata dari seluruh tokoh yang disebut-sebut dimedia massa akan maju di ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang terang nyata foto mereka dipampang di jalan-jalan umum serta sudut lorong di Kabupaten Aceh Tengah sebagai sinyal akan maju menjadi calon wakil bupati Aceh Tengah semuanya diundang Panitia Pelaksana.  Namun hanya Iklil Ilyas Leube yang muncul berkesempatan hadir menyaksikan acara tersebut.

Dia diberi kesempatan untuk naik panggung oleh stage manajer hanya untuk membaca puisi. “Silah ke panggung untuk bang Iklil. Ini panggung seni silahkan membaca puisi dan jangan berpidato politik,” kata Fikar W Eda.

Iklil maju dengan secarik kertas yang ternyata berisi bait puisi berjudul “Wakil Rakyat”. Dengan dibantu FIkar W Eda, anak tokoh Aceh diera perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia hingga perjuangan Kemerdekaan Aceh ditahun 1980an ini membaca sajak-sajak bernada kritis terhadap anggota lembaga perwakilan rakyat di negeri ini.
Dan sebelumnya, Iklil sempat mengeluhkan akan punahnya bahasa Gayo yang mulai ditinggalkan oleh pemiliknya “Urang Gayo”. “Harus ada upaya untuk mempertahankan agar bahasa Gayo tidak punah,” cetus Iklil.

Menjelang maghrib, pengunjung belum juga ada yang buyar “cogok-nya”. Fikar lalu meminta kembali 2 personil Zombeetnica untuk naik ke pentas, Irvan dan Juhka. Rupanya mereka sedang merilis lagu Gayo yang akan segera beredar dipasaran dengan lagu andalannya “Tutit”. Untuk terakhir petang tersebut, penonton harus mengakhiri “cogok-nya” setelah bertepuk tangan saat berkahirnya lagu yang dibawakan Irvan dan Juhka.
“Sampai jumpa di Inilah Gayo III yang kami belum tau kapan dan apa temanya. Yang jelas akan digelar dialam terbuka seperti ini,” kata Fikar sambil mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggagas dan menggelar acara tersebut, kru Lintas Gayo dan anggota GFC.

Dia juga berucap penghargaan kepada sejumlah donator acara, Pemkab Aceh Tengah, Bener Meriah, Camat Lut Tawar, Camat Kebayakan, Yan Budianto, Uswatuddin, Kadis Dikjar Aceh Tengah dan lain-lain serta pemuda dan aparat kampung Hakim Bale Bujang atas izin penggunaan tempat tersebut.

Sejumlah fotografer dari GFC mengabadikan momen bersejarah dengan Ketibung-nya tersebut dari berbagai sudut dan momen. Dan untuk dokumentasi videonya tak tanggung-tanggung, sutradara film dokumenter sejarah Radio Rimba Raya, Ikmal Bruce Gopi langsung turun tangan. (Khalis)

by lovegayo.com

Feedback

Reaksi:

If You Enjoyed This Post Please Take a Second To Share It.

You Might Also Like

Stay Connected With Free Updates

Subscribe via Email

0 komentar: