III

Bius Pantai Putri Meurendam Dewi | bandatourism

17.57
0 komentar


Angin berhembus menyapu pelataran pantai siang itu, membuat basah sebagian pasir putih berwarna jingga muda. Lidah ombak laut Samudera Hindia tak henti mendesir memaksa tujuh gadis berlari kecil sambil mengangkat kain yang semakin nakal menyentuh kaki telanjangnya.

Lhok Geulumpang, masih tampak anggun meski hancur dihumbalang bakat raya, tsunami 2004 silam. Sejumlah akar pohon masih tersusun rapi di bibir pantai tak menghilangkan keindahan alami pantai itu. Tak heran bila kapal Hok Canton berbendera Belanda yang di nakhodai Hansen melabuhkan sauhnya di teluk ini ratusan tahun silam.

Pantai sepanjang satu kilometer ini persis berada di Teluk Kuala Do Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya, yang dulunya banyak dikunjungi wisatawan. Ini berkat kerja keras Dietmar Herbert Egber Hess warga Jerman, yang kemudian bergelar Daud Jerman. Sejak itu, wisatawan asing pun tak ragu menunjukkan lokasi ini di peta tujuan wisata mereka.

Daud sudah melanglang buana selama15 tahun meninggalkan tanah kelahirannya. Dia pernah berkelana di Afrika, Amerika, Australia dan juga berkeliling di Indonesia, mulai dari Bali, Lombok, Flores dan akhirnya, sejak tahun 1989 ia memilih menetap di Aceh. Ini karena kecintaan Daud ketika melihat keindahan pantai Aceh Jaya ini, yang dulunya masih berinduk ke Kabupaten Aceh Barat.

Setelah meminang Rusmawaty, warga setempat menjadi isterinya pada16 Mei 1990. Daud menyulap lokasi asri tersebut menjadi pusat tujuan wisatawan
Namun, konflik memaksa Daud hengkang dari pantai itu dan kemudian tsunami hampir saja tak menyisakan keindahan Lhok Geulumpang. dengan membangun bungalow bertengger di atas pohon ketapang. Rumah berdinding papan dan beratap daun nipah itu semua pintunya mengarah kelaut, kala itu menyajikan suasana alam yang teduh. Dari jendela terlihat jelas teluk kecil Kuala Do yang persis berada di bibir pantai.

Pada tahun 1993, kawasan ini pernah menjadi lokasi pesta budaya regional ASEAN, semasa pemerintahan bupati sekaligus seniman Aceh Barat T. Rosman. Keberhasilannya meracik pesta budaya ini menjadi buah bibir di sepenjuru negeri. Kala itu, ribuan warga tumpah bersama ratusan seniman hanyut dalam pesta budaya bertajuk Piayan Raya Lhok Geulumpang.

Sisa-sisa kebesaran pesta masih terlihat. Sebuah panggung hitam yang dipakai saat perhelatan pesta itu masih berdiri di sana, meski posisinya telah miring setelah dihantam gelombang raya. Kondisinya seperti tak terawat.

Selemparan batu orang dewasa, di belakang pantai, terdapat hutan yang masih alami dan dihuni berbagai jenis monyet yang sering bercanda dengan pengunjung. Panorama di sebelah Barat berhadapan langsung dengan laut Samudera Hindia dan di sebelah Timur terbentang perbukitan yang tertata rapi.

Keteduhan lautnya sering dimanfaatkan wisatawan untuk snorkeling dan diving melihat keanekaragaman ikan dan biota laut, ataupun sekadar berjemur sambil menikmati gugusan pulau-pulau kecil.

“Kami hampir tiap bulan berkunjung kesini, suasananya damai sekali”,  kata Razali warga Woyla, Aceh Barat. Dia bersama keluarga sering bertandang di Lhok Geulumpang. Selain indah lokasinya-pun jauh dari keramaian.

Sejumlah nama besar pernah singgah di pantai ini, seperti Laksamana Cheng Ho asal Tionghoa yang melabuhkan sauhnya menikmati pesona Teluk Rigaih. Dan mendengar selentingan kabar tentang kecantikan Ratu Putri Meurendam Dewi. Dengan berbagai usaha, akhirnya Cheng Ho bertemu dengan sang Putri, yang kemudian ditulis dalam buku catatan perjalanannya.

Tak salah, seniman Hasbi Burman dan Doel CP Allisah menorehkan coretan puisinya di tanah legenda Batee Meurendam Dewi ini. Puisi “Di Bawah Panorama Lhok Geulumpang” dan “Lhok Geulumpang” menukilkan kita untuk selalu berkunjung kesana.



Lhok Geulumpang


Kapal asing itu melirik
mencium bau teluk yang wangi
Hok Canton melabuhkan rasa lewat tali jangka
merambah sampai ke Rigah
tinggal dalam lembar sejarah

seterus itu memandang
Teuku Umar dalam semak belukar
dan hari setelah itu
ramainya menggali kembali umbi sejarah
sebagai penerus garis pahlawan bangsa

malam yang basah
"piasan raya" membuka tabir sejarah
kita labuh kebudayaan
antara hari-harinya yang tinggal
era masa lalu
kita jadikan Lhok Geulumpang
desa budaya
dan merakitkan dari seni ke seni


[Hasbi Burman]

by atjehpost.com

Feedback

Reaksi:

If You Enjoyed This Post Please Take a Second To Share It.

You Might Also Like

Stay Connected With Free Updates

Subscribe via Email

0 komentar: