III

Cerita Rintikan Artepak | bandatourism

17.52
0 komentar



“Menilik potensi wisata Riau bersama tim ekspedisi Mapala Suska, berjalan kaki dari Sumbar ke Riau”
Rombongan Mapala UIN Suska berkumpul di depan PKM. Siang itu, Sabtu (26/2) cuaca cerah. Mereka memulai program ekspedisi yang sudah direncanakan jauh hari. Kali ini Mapala Suska Riau bertujuan untuk melihat keadaan Air Terjun Pangkalan Kapas (Artepak), Kampar. Belakangan tersiar kabar kawasan ini akan dibuat tambang batu bara.


Kami ada sepuluh orang: Alfian Furqani alias Cebong sebagai kordinator. M Afdal alias Baung, R Nofrinaldi alias Capung, M Yusuf alias Ubur-ubur, Umi Rovia alias Pacet, Ratna Wati alias Meong, Ruhaini alias Brudu, Wahyuni alias Pitek dan Asianita alias Patin. Masing-masing punya nama samaran yang diambil dari nama binatang kecil. Saya sendiri diberi gelar Lele oleh mereka. Biasanya, kalau dilapangan mereka akrab dengan sapaan itu.

Pukul 14.20 kami berangkat tumpangi bus Tabek Biru menuju Desa Manggilang Sumatra Barat. Letaknya sekitar 50 kilometer dari perbatasan Riau-Sumbar.
Bus melaju kencang dengan kecepatan 80 Km/jam, melintasi jalan berkelok menyusuri lereng bukit yang ditumbuhi beragam pohon. Desa ini masuk dalam wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra barat.

“Bang pinggir lewat jembatan ya,” kata Cebong pada stokar bus. Kami tiba pukul 18.00 di Desa Manggilang, lalu berjalan melewati jembatan gantung penyeberangan, banyak warga mandi di bawah. Kami terus menyusuri jalan semenisasi, melintasi rumah warga. Pandangan warga mengarah pada kami. “Nak kama? (Kemana nak?),” sapa salah satu warga.

Sebelum menelusi hutan, tim rehat sejenak untuk berdoa. Doa dipimpin Baung. Setelah itu Cebong beri saran pada tim, "Tolong jaga sikap, omongan dan jangan merusak, apa lagi mengambil yang bukan milik kita."

Perjalanan yang kami tempuh dari Manggilang ke Artepak kurang lebih 65 kilometer, menyusuri perkebunan karet dan gambir. Butuh waktu satu hari, bahkan bisa lebih. Karena kami harus menempuh hutan, bukit dan menyeberang sungai.

Sayup-sayup suara adzan dari perkampungan terdengar. Shalat Magrib tak kami lewatkan, sejenak berhenti melaksanakan ibadah shalat di gubuk milik warga. Masalah arah shalat kami tanya Baung, ia selalu siapkan kompas.

Jalan setapak yang kami lalui lembab dan becek. Hari mulai gelap, kami siapkan senter untuk lanjutkan perjalanan. Suara kodok terdengar sepanjang jalan. Sering diantara kami menjerit, melihat pacet menempel di kaki. Teriakan “Woooii,” kami lontarkan bila ada yang tertinggal di belakang.

Dingin malam mulai terasa, keringat terus basahi badan. Beban di pundak kian memperlambat langkah kami. Banyak persimpangan di tengah rimba, cukup buat kami bingung. "Kanan, kiri," teriak Cebong sepanjang jalan.

Sekekali Cebong bertanya pada petani. "Kalau malam jalannya samar-samar, jadi susah, banyak jalan baru," keluh Cebong. Gubuk petani sering kami jumpai, namun tak semuanya berpenghuni. Jaraknya juga berjauhan. Berbagai tanaman buah kami temui: durian, manggis, salak, apokat dan lainnya.

Tak terbayang oleh kami, kalau tersesat. Urusan rute kami serahkan ke Cebong. Kami sekalipun belum pernah ke Artepak, kecuali Cebong.

Pukul 21.00 perjalan terhenti. Cebong terus mencari jalan keluar, teriakanpun terlontarkan. Beruntung teriakannya ada yang dengar dari arah gubuk di atas bukit. Ia pun mendekati suara orang di seberang lereng bukit.

Cebong suruh tim mendaki lereng. Kami dipandu oleh seorang laki-laki sebaya. Ia tak mengenakan baju, Parang terselip di pinggangnya, langkahnya cepat, selisih sepuluh langkah dari kami. Berkat pertolongannya, kami dapat menemui jalan poros. "Tarimo kasih da," ucap tim dalam bahasa minang. "Bagaimana kita lanjutkan atau ngetem di sini," tanya Cebong pada tim. Sebentar kami berembuk. Melihat kondisi tak lagi fit, akhirnya kru menetapkan untuk ngecemp, tepat pukul 21.30.

Beruntung ada gubuk petani yang bisa kami gunakan untuk bermalam. Sebagian kru mempersiapkan makan malam, ada juga yang membersikan badan di sungai tak jauh dari gubuk.

Minggu (27/2), selesai sarapan pukul 07.20. Udara terasa sejuk. Perjalanan kami lanjutkan. Pagi-pagi tim harus mendaki bukit cukup terjal, diantara kami banyak yang kepor.

Kepor sama juga lemas, tapi kami lebih memilih kepor, lebih asyik kedengarannya, itu juga bahasa lapangan bagi tim Mapala Suska. Sampai bukit, semua tarik napas panjang, sambil teriak. Di atas, pandangan terlihat luas, kabut putih masih menyelimuti pepohonan.

Tak mau melewatkan momen ini, tim berpose. Canda tawa mengalir satu sama lain. “ Go...go...”. Ajak Cebong berjalan. "Kalau istirahat lama-lama bisa lemas nanti," sarannya. Menelusuri hutan bambu, lereng sungai terus ditempuh. "Kalau jatuh gak terhitung lagi," kata Pacet tersenyum. Kalau tim terluka, semua mengadu pada Pacet. Pacet selalu siaga membawa kotak P3K.

Cebong masih di posisi depan, "Ini perbatasan Sumbar dengan Kabupaten Kampar, Riau," jelas Cebong. Tidak ada tanda pembatas, hanya pohon pinang yang terlihat. Kami terus berjalan sembari lantunkan yel-yel agar tak terasa lelah.

Setelah melewati hutan, tak lama kemudian kami mendapatkan jalan menuju Desa Lubuk Bigau, Kampar. Kata Cebong di dalam sana ada lima desa, sejarahnya dulu jadi satu desa, namanya Desa Pangkalan Kapas.

Jarum jam menununjukan pukul 10.30, di atas jembatan kami istirahat makan siang. Suara alat pemotong kayu terdengar keras. Terlihat seorang dari mereka menarik potongan kayu di dalam air.

Perjalanan yang sudah kami ditempuh kurang lebih 40 kilometer. Pukul 11.00, perjalanan kami lanjutkan. Berjalan 15 kilometer di atas tanah kuning dan banyak batu kecil untuk mencapai perkampungan Desa Lubuk Bigau.

Siang itu hujan turun, tapi tak lama. Jalan jadi becek dan licin, motor tak bisa lewat, ada juga mobil warga parkir di jalan. Terkadang warga harus berjalan kaki pergi keladang. Sampai di sana pukul 14.00, baju basah kuyup kena keringat.

“Biasanya dari Lubuk Bigau menuju Artepak butuh waktu 2-3 jam," kata warga. Pukul 14.30 kami star dari perkampungan, jaraknya sekitar 10 kilometer. Setengah jam berjalan di atas semenisasi bangunan warga, selebihnya melewati kebun warga dan hutan larangan. Tak terhitung berapa alur sungai terlewati. Tim tak sanggup lanjutkan perjalanan, sebelumnya tim sempat salah arah. Tim kembali ngecemp pukul 18.00. "Seumur hidup, baru kali ini jalan paling jauh," kata Patin sambil memijat kaki.

Senin (28/2/), pukul 08.00 tim kembali lanjutkan perjalanan ke Artepak. Sebelum finish kami menikmati keindahan air terjun ketinggian 30 meter, uapan air masih kelihatan, kami tidak sabar merasakan dingin air terjun itu, tak lama kemudian pelangi merona melingkari kawasan itu. "Waw, indahnya…"

Pukul 09.30, menjajaki hutan larangan, mendaki dan melewati kayu-kayu besar . Suara Artepak mulai terdengar. Kata Cebong, air terjun kecil-kecil di kawasan hutan tak terhitung banyaknya. "Mungkin kalau 10 lebih," katanya. Dakian kami tempuh, beragam kicauan burung terdengar di atas pohon.

Pukul 11.00, tim sampai di Artepak. Rasa lelah berjalan satu hari dua malam akhirnya terobati setelah merasakan semilir angin dan percikan air terjun di ketinggian 150 meter. Setahu Mapala Suska, Artepak tertinggi di Sumatera. Suara air jatuh di batu terdengar keras. Tebing putih terbentang panjang dan tinggi. Sarang lebah tersusun rapi di atas tebing. Batu-batu besar tersusun di bawah Artepak. Semua tim hembuskan nafas lega dan teriak sekuat-kuatnya. Gema suara kami dapat terdengar kembali.

Tampak plang bertulisan "Jagalah kehijauan kami" menempel di sebuah pohon. "Itu kami yang buat, waktu XPDC ke-dua tahun 2007," kata Cebong. Nama Artepak juga dibuat atas kerja sama warga dengan Mapala Suska Riau. Pada akhirnya nama Artepak diresmikan sampai sekarang.

Kata Cebong dulu banyak kegiatan tim ekspedisi bersama warga Lubuk Bigau: membuat rute, mengukur tinggi air terjun, buat plang nama, pendataan flora dan fauna, mencari objek wisata seperti Gua, Kolam Love dan air terjun lainnya yang ada di kawasan hutan.

Namun untuk mencapai objek wisata di Lubuk Bigau butuh waktu panjang dan penuh tantangan. Tidak ada transportasi di sana. Banyak jembatan kayu yang dibuat warga seadanya. Ada dua rute menuju Artepak: Lipatkain, Kampar dan Manggilang, Lima Puluh Kota, Sumbar. Jarak tempuhnya sama sekitar 65 kilometer. Kalau lewat Lipatkain butuh waktu 3-4 jam menggunakan sepeda motor sampai Lubuk Bigau. Selebihnya, jalan kaki menuju Artepak.

Dua malam kami habiskan waktu di sana. Banyak yang dapat kami nikmati. Mancing Ikan Lele dengan mudah kita dapat. Bila pagi dan sore hari, burung-burung walet banyak berdatangan mandi di air terjun. Suara Artepak heningkan malam, angin malam bekukan suasana, api unggun menyala, namun dingin tetap terasa.

Waktu pagi, kabut awan selimuti curam, membentang luas seperti lautan di bawah sana. Tak ingin rasanya meninggal Artepak. Keindahan alam yang asri buat betah pengunjungnya. Tak ada balas jasa yang bisa kami berikan, hanya senyuman sedih sebagai rasa cinta kami kepada Artepak.

Rabu (2/2), kami kembali ke Pekanbaru. Semoga Artepak tetap abadi, menjadi wisata para pencinta alam. "Rindu kami bersamamu." Mapala Suska dan Gagasan


by gagasan.org

If You Enjoyed This Post Please Take a Second To Share It.

You Might Also Like

Stay Connected With Free Updates

Subscribe via Email

0 komentar: