III

Gayo dan Perubahannya | bandatourism

00.37
0 komentar


Kalau kita berbicara tentang Gayo, kita tidak tahu lagi harus mulai dari mana, karena masalah Gayo sudah sedemikian komplit dan sangat memprihatinkan.

Mulai dari kesukuan/klen/Belah, Bahasa, Tutur, Adat dan Budaya, yang semua orang tahu bahwa mereka orang Gayo. Tetapi apabila kita bertanya kamu dari belah mana? mulailah tampak keraguan dalam dirinya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ini kita dapatkan rata-rata dari yang berusia 40 tahun kebawah, baik pengetahuan kesukuan, bahasa, tutur sudah mulai pudar, adat dan budaya. Belah, bahasa dan tutur ini sangat penting karena itulah, maka disebutkan sebagai orang Gayo. Didalam adat Gayo mengharamkan kawin dalam satu belah, apabila hal ini terjadi maka hukumannya adalah Parak dan Jeret Naru.
Orang Gayo terdiri dari 6 suku induk :
  1. Linge
  2. Bukit
  3. Siah Utama
  4. Pati Amang
  5. Abuk Serbejadi
  6. Cik Bebesen
Keenam suku induk ini masih terbagi kepada beberapa belah, minsalnya Bukit ada Belah:
  • Bukit lah
  • Bukit Eweh
  • Gunung
  • Jongok :  Meluem, Batin, Bujang, Penghulu Timangan
  • Kala
  • Cik Bebesen : Cibro, Melala, Munte, Gayo, Munte Padang, Melala Segi
Keenam suku induk ini pada umumnya memiliki bahasa sama hanya perbedaan pada logat atau dialek. Pada tahun sebelum 1970 masing-masing suku induk ini masih menyatu pada wilayah.
Tapi mulai tahun 1970 mereka mulai membaur dan berkembang dan tidak lagi menurut wilayah mereka masing-masing, bahkan dari generasi tahun 2000 s/d sekarang banyak diantara mereka tidak lagi mengetahui dari kelompok mana mereka berasal.
Sehingga berdampak kepada pelanggaran adat yang sangat memprihatinkan, bahkan kalau kita konfirmasikan kepada orang tua mereka, maka keluarlah jawaban : itu kan dulu, kalau sekarang tidak dapat dipertahankan lagi.
Didalam pemakaian bahasa sehari-hari masyarakat Gayo sudah sangat memperihatinkan, terutama pada generasi mudanya, sudah tidak lagi fasih dan lancar dalam berbahasa Gayo.
Ini disebabkan oleh beberapa hal :
  1. Didalam keluarga, kedua orang tua tidak lagi berbahasa Gayo
  2. Ketika orang tua berkomunikasi dengan anak-anak mereka tidak lagi berbahasa Gayo
  3. Antara anak dengan anak pun tidak lagi dibimbing menggunakan bahasa Gayo
  4. Orang tua tidak lagi mengejarkan kepada anaknya bahasa, tutur, bahkan orang tua itu sendiri sudah jarang, bahkan tidak pernah sama sekali mempergunakan bahasa Gayo.

Perkembangan Bahasa Dan Sastra Gayo
Untuk semua itu harus dilakukan:
  1. Setiap orang dalam keluarga didalam kesehariannya harus berbahasa Gayo terutama Ibu dan Bapak
  2. Pengembangan seni yang sarat dengan muatan sastra seperti Kekeberen, Itik-itiken, Ure-ure, Melengkan.
  3. Seni Suara : Saer, Didong, Pepongoten, Sebuku
  4. Seni Tari Gayo, Seni dan tari Gayo dengan seni tari daerah lainnya yang punya cirri-ciri khas dan spesifik. Seni tari Gayo bersumber dari Tari Guel atau sekarang dikenal dengan Tari Gajah Putih Bangkit.
Ciri-ciri khas tari Guel adalah :
  1. Jentik
  2. Geritik
  3. Kernot
  4. Linggang
  5. Gerdak /Gerden
Yang tidak ada di dalam seni tari Guel adalah:
  1. Gentot
  2. Gedep
  3. Lumpet
  4. Teragong

Peran Pemerintah yang Pro Aktif
Didalam hal ini yang perlu dilakukan adalah:
  1. Mengaktifkan dan memberdayakan Majelis Adat
  2. Mengadakan festival/sayembara seni yang berkala yaitu : Didong, Pepongeten,Melengkan
  3. Memotivasi masyarakat dan seluruh intansi pemerintah beserta jajarannya untuk memakai baju Kerawang sekali atau pada acara tertentu dan pada acara-acara yang bersifat seremonial.
Ini semua belum cukup, kita harus duduk bersama membuat dan merancang langkah-langkah apa yang kita ambil dan kita tempuh untuk kelangsungan dan penyelamatan adat dan budaya Gayo antara lain mengusulkan kepada pemerintah mengambil kebijakan :
  1. Pelaksanaan adat dan hukum adat
  2. Hak Ulayat Adat
  3. Pengelolaan/Pengawasan sumber daya alam oleh masyarakat adat
  4. Identitas
  5. Pendidikan adat dan bahasa di sekolah mulai dari SD sampai ke perguruan Tinggi
Kalau kita tidak bangkit mulai dari sekarang untuk menata kembali peradaban Gayo, tidak mustahil pada suatu saat nanti hanya ada di dalam kenangan.

Gayo yang dulu ikut mengukit sejarah nusantara, di Aceh akan tinggal kenangan tanpa puin dan pusara. Kerajaan Linge adalah kerajaan tertua di Aceh, putra tertua dari Raja Linge adalah pendiri kerajaan Pase, bernama Merah Silu dan adiknya yang bungsu bernama Sebayak Linge menjadi raja di Tanoh Karo. Atas kesepakatan Linge dan Pase di tunjuk dan diangkat Johansyah menjadi raja di Ujung Aceh yang waktu itu hanya diberi nama Kutereje.
Johansyah adalah putra dari Adi Genali yang memerintah Kerajaan Linge pada waktu itu. Johansyah dinobatkan menjadi Sultan Aceh pertama pada tahun 601 H yang memerintah selama 32 tahun.

Keturunan Johansyah memerintah selama 142 tahun 10 bulan 19 hari yang tyerdiri dari 14 Sultan dan 4 orang Ratu berjumlah, berjumlah 18 orang. Yang ke 19 adalah Sultan Iskandar Muda. Aceh adalah satu satunya kerajaan Islam di dunia yang pernah diperintah oleh Ratu, kerajaan Aceh pernah mempunyai Perdana Menteri yang merangap sebagai penasehat raja, seorang perempuan terkenal dengan nama Datu Beru, bernama asli Qurata Aini. Datu Beru orang pertama di dalam sejarah Islam yang merubah hukum Qisas menjadi hukum Diyat. Kerajaan Linge pernah mempunyai panglima perang yang piawai yaitu putra Raja Linge ke XI yang mengalahkan Portugis di Selat Malaka.

Atas jasa-jasanya Sultan Johor mengawinkannya dengan salah seorang putri dan menghibahkan sebuah pulau kepada mereka, yang kemudian diberi nama Pulau Lingga, sekarang berada di provinsi Riau kepulauan.

Disanalah beliau menjalani masa hidupnya sebagai raja pulau Lingga, beliau di karuniai dua orang putra dan seorang putri: Bener Meriah, Sengeda dan Cut Limah. Dari sinilah diawali kisah Sengeda dan Bener Meriah. Kisah Sengeda dan Bener Meriah adalah kisah nyata.

* Tokoh Adat Gayo Berdomisili di Pante Raya (Anggota MPU dan anggota Majlis Adat Aceh)

If You Enjoyed This Post Please Take a Second To Share It.

You Might Also Like

Stay Connected With Free Updates

Subscribe via Email

0 komentar: